Akhir Tragis dari Sebuah Antitesis di Final Piala AFF 2010

IndoBolaForumPiala AFF Suzuki Cup 2010 menjadi kenangan yang tak kan pernah terlupakan bagi dua negara serumpun, Malaysia dan Indonesia. Dua negara tersebut menjadi finalis dan berlaga pada dua leg Final Piala AFF 2010 yang disponsori oleh perusahaan otomotif Suzuki. Kompetisi yang digelar oleh federasi sepak bola Asia Tenggara ini berlangsung di Indonesia dan Vietnam, namun laga semifinal dan final digelar dalam dua leg dengan sistem kandang dan tandang.

Singkat cerita, tim nasional Indonesia dan Malaysia berada dalam grup yang sama. Dalam grup A tersebut tercantum nama Laos dan juga Thailand yang disebut-sebut sebagai rajanya Piala Tiger-nama lawas dari Piala AFF. Di grup B terdapat tim unggulan Vietnam dan juga Filipina serta terdapat Myanmar dan Singapura.

Filipina lolos sebagai runner up grup B menemani Vietnam yang sempat mereka kalahkan. Sedangkan, di grup A Indonesia lolos sebagai juara grup dengan poin sempurna dari 3 laga dan hanya kemasukan dua gol saja. Malaysia menyusul dengan catatan satu kemenangan, satu seri, dan satu kekalahan.

 

Tim Unggulan

Memasuki fase gugur, terdapat empat negara dan tidak menyertakan nama Thailand. Indonesia yang menjadi tim tersubur di fase grup berubah menjadi tim yang paling diunggulkan di fase akhir ini. Timnas Indonesia berhasil mencetak 13 gol dibanding pesaing terdekat Vietnam yang hanya mencetak 8 gol saja.

Kehebatan timnas kala itu tergambar ketika membuka laga fase grup dengan membantai Malaysia di hadapan 62.000 penonton yang hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan skor 5-1. Di laga kedua mereka menghancurkan Laos 0-6 di hadapan 70.000 penonton. Indonesia yang sudah dipastikan lolos tetap tancap gas dan mengalahkan Thailand dengan skor tipis 2-1.

Malaysia yang tak terlalu diunggulkan tampil biasa-biasa saja selama fase grup. Mereka berhasil menahan seri Thailand setelah dibantai Indonesia. Di partai terakhir fase grup mereka memanfaatkan kemenangan Indonesia atas Thailand dan mengalahkan Laos, sehingga Malaysia berhasil masuk ke fase gugur.

Di grup B, Vietnam yang menang dua kali dan kalah sekali lolos sebagai juara grup. Vietnam ditemani oleh Filipina yang menang sekali dan bermain seri dua kali. Vietnam bertemu Malaysia di babak semifinal. Mereka takluk dari Malaysia dengan skor 2-0 dan hanya mampu bermain kacamata di leg kedua. Indonesia yang melawan Filipina sedikit diuntungkan karena Filipina memainkan laga kandang di GBK. Hal ini disebabkan kurang memenuhinya standar stadion di Filipina untuk menggelar laga internasional. Alhasil, Indonesia menang dengan agregat 2-0 berkat dua gol Christian Gonzales di masing-masing laga.

 

Dua Puluh Lima Hari yang Mengubah Segalanya

Terlepas dari segala kontroversi, ulah fans yang dicurigai, dan permainan mafia yang terus diselidiki laga final kedua tim Melayu ini benar-benar di luar dugaan. Benar saja, pada 1 Desember 2010 Malaysia tak berdaya di hadapan Timnas Indonesia dengan skor telak 5-1. Namun, pada tanggal 26 Desember atau 25 hari setelahnya Malaysia mampu menjamu Indonesia dengan jamuan super pahit di Stadion Nasional Bukit Jalil Kuala Lumpur.

Malaysia berlaku sebagai tuan rumah terlebih dahulu. Babak pertama berjalan cukup menyulitkan bagi Indonesia, tetapi perjuangan pemain di lapangan masih berhasil membendung serangan hebat dari Macan Melayu. Petaka mulai datang satu jam pasca laga berjalan. Safee Sali menjadi momok menakutkan bagi lini belakang timnas. Di menit 61, pemain yang saat itu masih membela Johor Darul Takzim berhasil menaklukkan Markus Horison setelah Maman kurang bisa mengantisipasi dengan baik bola yang akan keluar lapangan. Ashaari Shamsuddin menambah keunggulan Malaysia enam menit berselang. Puncaknya di menit 73 Safee Sali kembali menaklukkan Markus Horison dan membuat Malaysia mengantongi bekal margin tiga gol sebelum ke Jakarta.

 

Pemain Top yang Memudar di Laga Puncak

source: Bola Okezone

Sebagai informasi, saat itu dapat dikatakan sebagai salah satu generasi emas Indonesia. Dari posisi kiper terdapat Markus Horison, Ferry Rotinsulu, dan Kurnia Meiga. Di posisi belakang terdapat nama Maman Abdurrahman, Hamka Hamzah, M Roby. M. Nasuha, M. Ridwan, hingga Zulkifli Syukur. Di posisi gelandang terdapat nama-nama seperti Arif Suyono, Toni Sucipto, sang kapten Firman Utina, Eka Ramdani, hingga Okto Maniani. Di lini depan Indonesia tampak gahar dengan mengandalkan Bepe yang pernah jadi bintang Liga Malaysia dan Yongky Ariwibowo serta dua pemain naturalisasi yang langsung nyetel Gozales dan Irfan Bachdim.

Di final leg kedua, Indonesia menjamu Malaysia dan memiliki rasa optimis untuk mengulang kemenangan 5-1 di fase grup. Baru 18 menit laga berjalan, Indonesia mendapat hadiah penalti. Sayangnya, Firman Utina gagal menceploskan bola ke gawang Khairul Fahmi. Alih-alih mencetak gol, justru Safee Sali seperti hendak memupuskan harapan Indonesia lewat gol colongannya di menit 54.

Gol yang ditunggu-tunggu oleh jutaan masyarakat Indonesia baru datang di menit 72 lewat gol Muhammad Nasuha. Di menit 88 M. Ridwan kembali mencetak gol. Indonesia yang butuh tiga gol dalam kurun dua menit waktu normal tentu tak memiliki harapan yang tinggi. Akhirnya, Malaysia mampu mengalahkan Indonesia dan meraih gelar perdana mereka di Piala AFF.

Safee Sali yang tampil heroik dengan tiga golnya di laga puncak mencatatkan dirinya sebagai top skor turnamen dengan torehan 5 gol. Firman Utina yang tampil tenang dan mengendalikan permainan Timnas Indonesia didapuk sebagai best player.

 

Meninggalkan Banyak Kisah

Manajer Timnas kala itu mengungkit “tragedi” Final Piala AFF 2010 delapan tahun berselang. Andi Darussalam menyebut terdapat permainan mafia atau pengaturan skor. Beberapa pemain Timnas juga disorot karena melakukan blunder yang berujung gol. Selain itu, terdapat momen penggunaan laser yang mengganggu pandangan para pemain Timnas Indonesia ketika berlaga di Stadion Bukit Jalil. Bahkan, Presiden SBY kala itu melaporkan kejadian tersebut ke FIFA dan AFF sebagai bentuk protes resmi.

Kekalahan yang jadi kenangan pahit terasa lebih menyakitkan setelah beberapa hari sebelumnya para pemain Timnas barhasil menorehkan kenangan manis. Tim yang kala itu dilatih Alm. Alfred Riedl  bermain trengginas baik dari sisi pertahanan yang solid dan juga lini depan yang cukup gacor. Publik sepak bola Indonesia boleh menyayangkan kejadian ini. Namun, pembenahan kompetisi dalam negeri dan pembinaan pemain sejak dini perlu digalakkan. Penanganan serius juga harus ditegakkan terkait adanya mafia yang berusaha mengatur skor pertandingan.

Jayalah selalu.. Persepakbolaan Tanah Air..

Leave a Comment