AREMA FC: PRODUK DUALISME DI KOTA MALANG

IndoBolaForum Ketika menyebut dualisme ataupun perbedaan di Kota Malang, mungkin yang akan ada di pikiran penggemar sepakbola berbeda-beda. Malang memang memiliki dua klub yang sama-sama memiliki nama besar, yaitu Arema Indonesia dan Persema Malang. Kedua klub ini merupakan saudara tua yang sama-sama pernah bermain di Liga kasta tertinggi di Indonesia. Namun, tak sedikit penggemar sepakbola sekarang yang dibingungkan oleh keberadaan Arema Indonesia. Sederhananya, akan muncul pertanyaan “Arema yang mana?”

Saat ini memang terdapat dua Arema di persepakbolaan Malang. Terdapat Arema FC dan Arema Indonesia. Awal mula dualisme ini terjadi adalah karena adanya dualisme kompetisi di kubu PSSI. Pada tahun 2011, terdapat ISL dan IPL yang menjadi kompetitor. Situasi ini berimbas terhadap keberadaan Arema. Di kubu Arema terjadi perselisihan antara Rendra Kresna dan Muhammad Nur. Nur ingin Arema Indonesia pindah ke IPL, sedangkan Rendra Kresna beralasan pemilik Arema terdahulu (PT Bentoel) menginginkan Arema tetap berada di ISL.

Pada akhirnya, Arema Indonesia bersama Nur mengikuti kompetisi IPL dan Rendra Kresna membawa nama Arema Cronus mengikuti ISL. Kini, Arema Cronus masih berada di kasta tertinggi Liga 1 Indonesia dan Arema Indonesia harus turun kasta ke Liga Nusantara karena mendapat hukuman dari PSSI. Hukuman tersebut disebabkan Arema mengikuti kompetisi illegal dan kini Arema Indonesia masih berada di Liga 3 Jawa Timur. Sebagai tambahan informasi, hal serupa dengan Arema Indonesia juga dialami oleh Persema Malang yang kini juga berada di Liga 3.

Oleh karena Arema Cronus yang dianggap legal oleh PSSI, mari kita bahas Arema versi Rendra Kresna ini.

Arema Cronus atau Arema FC

Arema merupakan akronim dari Arek Malang. Klub yang lahir pada 11 Agustus 1987 ini memiliki nama resmi Persatuan Sepak Bola Arema hingga kini berubah menjadi Arema FC. Berbeda dengan Persema yang sering dijuluki klub pemerintah – karena memiliki home base di Stadion Gajayana, Arema memiliki perjalanan awal yang cukup berliku. Di awal tahun berdiri, Arema yang bersiap mengikuti kompetisi Galatama merekrut pemain nasional dan pelatih sekelas Sinyo Aliandoe. Hasilnya, di kompetisi Galatama mereka mampu konsisten tidak berada di papan bawah. Namun, Arema juga masih pasang surut berada di papan atas. Pada tahun 1992, Arema berhasil menjuarai kompetisi Galatama dengan materi pemain seperti Singgih Pitono dan Aji Santoso serta pelatih M Basri.

Seusai masa Galatama, Arema mengalami penurunan prestasi di Liga Indonesia. Hingga puncaknya pada tahun 2003, Arema mengalami kesulitan keuangan dan mengharuskan mereka diambil alih oleh PT Bentoel Internasional Tbk (produsen rokok) di pertengahan musim. Namun dampak yang diberikan memang tak bisa instan dan Arema harus turun kasta musim itu. Kedati demikian, di tahun 2004 Arema berhasil menjuarai Divisi 1 dan kembali ke kasta tertinggi.

Bahkan dua tahun berturut-turut mereka menjuarai Copa Indonesia, yakni di tahun 2005 dan 2006. Kisah PT Bentoel bersama Arema kandas di tahun 2009 kala PT Bentoel menjual mayoritas sahamnya ke British American Tobacco (BAT). Arema diserahkan dengan sistem konsorsium dan nama Arema Malang berubah menjadi Arema Indonesia. Kini, Arema memiliki badan hukum yang sah yaitu PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI) sejak 2015.

Meskipun terjadi gejolak di internal klub, Arema yang diasuh oleh Robert Rene Alberts berhasil meraih gelar juara Liga Super Indonesia (LSI) dan runner up di Piala Indonesia (2009/2010). Arema hampir saja bergabung atau merger dengan Persema, beruntungnya Aremania tak setuju dengan wacana tersebut. Hingga tahun 2016, Arema masih konsisten berperan sebagai pesaing terkuat juara. Ya, Arema memang “hanya” menjadi pesain dan gagal menjadi juara dalam kurun waktu tersebut.

Source: Detik Sport

Kondisi Arema Malang Kini

Sekarang, Arema dilatih oleh Carlos Oliveira. Dibantu oleh Singgih Pitono, Kuncoro, dan Charis Yulianto, Carlos Oliveira memiliki target yang cukup besar untuk Arema. Arema juga masih diperkuat oleh pemain-pemain hebat seperti Hanif Sjahbandi, Feby Eka Putra, Bagas Adi Nugroho, Dedik Setiawan, Dendi Santoso, Alfarizi, dan Katika Ajie. Sebelumnya, Arema juga memiliki pemain-pemain berkualitas. Sebagai contoh adalah legenda persepakbolaan Indonesia yang sudah beberapa kali menjadi top skor dan pemain terbaik ISL seperti Christian “el Loco” Gonzales dan Keith Kayamba Gumbs.

Arema memiliki kelompok pendukung yang selalu setia menemani dimanapun Arema bermain. Tak hanya remaja dan orang tua, bahkan anak kecil pun juga sering terlihat mendukung mereka di stadion. Tidak hanya laki-laki, namun juga perempuan. Mereka adalah Aremania dan Aremanita. Aremania terkenal sebagai salah satu kelompok supporter yang sangat loyal. Di tahun 2000 mereka mendapat penghargaan supporter terbaik pada kompetisi Liga Indonesia. Di tahun 2006 mereka juga memeperoleh penghargaan yang sama di kompetisi Copa Indonesia.

Ketika Aremania Berulah

Source: Kaskus

Aremania masih menjadi kelompok supporter yang loyal, namun belakangan mereka menaikkan pamor mereka dengan menunjukkan kreativitas mereka. Namun bukan berarti Aremania tidak memiliki sejarah yang sedikit mencoreng nama mereka. Kejadian pada tahun 2007 tidak akan dilupakan publik Indonesia begitu saja.

Laga 8 besar Divisi Utama Liga Indonesia 2007 menjadi saksi kerusuhan Aremania. Kala itu Arema bermain melawan Persiwa Wamena di Stadion Brawijaya. Arema yang sedang tertinggal 2-1 dari Persiwa benar-benar menguji kesabaran Aremania. Alhasil, pada menit 71 Aremania kehabisan kesabaran dan turun ke lapangan hingga merusak Stadion Brawijaya. Akhirnya Aremania dilarang memakai atribut ketika menonton laga away selama dua tahun.

Tepat satu musim setelah hukuman dari PSSI selesai, Aremania benar-benar merayakan hal yang mereka tunggu. Arema berhasil menjuarai ISL 2010. Kala itu hampir sekitar 50 ribu Aremania melakukan away ke Jakarta. Stadion GBK jadi saksi 40 ribuan Aremania bernyanyi di sana. Selain itu, masih ada ribuan penonton yang hanya bisa mendukung dari luar stadion. Animo yang luar biasa dari sebuah kelompok supporter.

Masih kita nantikan kiprah Arema di Liga Indonesia 2021.

Leave a Comment