PERSEBAYA : PEMAIN BERANI, PENDUKUNG BERNYALI

IndoBolaForumDimana kau berada, di situ kami ada..! Begitulah kiranya teriakan pendukung Persebaya Surabaya ketika tim kesayangan sedang berlaga. Dimanapun Bajul Ijo berlaga, suara itu tak kalah seru. Bahkan tak jarang suara tersebut bisa mengalahkan atau menyamai chant yang dinyanyikan oleh supporter tuan rumah. Baik laga tandang di kota seberang, di ujung barat pulau Jawa atau bahkan di luar pulau. Kesetiaan pendukung Surabaya inilah yang membuat mereka dinamai dan menamai diri mereka dengan Bondho Nekat.

Istilah Bonek pertama kali muncul dalam Harian Pagi Jawa Pos pada tahun 1988. Kala itu sebutan bonek muncul karena hampir sekitar 25 ribu pendukung Persebaya Surabaya yang berbondong-bondong away ke Jakarta untuk mendukung tim kesayangan memainkan laga final Divisi Utama 1987-1988. Ribuan bonek yang datang ke Ibu Kota berangkat dengan cukup terorganisir dan tidak ada kerusuhan ataupun keributan yang terjadi.

Sebelum membahas Bonek, mari kita tengok klub kesayangan mereka ini.

Awal Mula Persebaya

Persebaya atau Perserikatan Sepakbola Surabaya berdiri pada 18 Juni 1927 dengan nama awal Soerabajasche Indische Voetbal Bond (SIVB). Bajul Ijo awalnya berisi pemain Belanda yang berada di Surabaya. Bersama PSIM, Persib, Persis Solo, PPSM Magelang, dan PSM Madiun, klub ini menjadi salah satu inisiator yang melahirkan PSSI pada 1930. Prestasi terawal Bajul Ijo adalah menjadi runner up kompetisi perserikatan pada 1938.

Persebaya menjadi salah satu raksasa di era 1978-1990. Mereka berhasil menjdai juara dua kali pada 1978 dan 1988 serta dua kali menjadi runner up pada 1987 dan 1990. Mulai 1994 Galatama dan Perserikatan menyatukan kompetisi dengan tajuk Liga Indonesia. Di tahun ketiga kompetisi itu, Persebaya menjadi kampiun dan pada tahun 2004 mereka kembali berhasil menguasi Liga Indonesia. Padahal tahun 2002 mereka sempat terdegradasi. Namun, berkat pengalaman pahit itu mereka berhasil juara Divisi 1 dan Divisi Utama dua tahun berturut-turut.

Sepak Bola Gajah di Surabaya

source: Libero.id

Berbicara tentang Persebaya belum lengkap jika belum membicarakan sepak bola gajah. Sepak bola gajah mengiringi kisah Persebaya di tahun 1988. Di era itu Bajul Ijo memiliki musuh bebuyutan dari ibu kota Jawa Tengah. PSIS Semarang hanya butuh kemenangan di laga terakhir untuk menuju babak 6 besar Divisi Utama. Persipura bisa saja lolos namun mereka harus menang dengan margin yang besar dari lawan terakhirnya di Surabaya. Persipura yang tak diunggulkan kala itu secara mengejutkan mampu menang 0-12 di Stadion Gelora 10 November Surabaya.

Siapa sangka Bajul Ijo bisa kalah dari lawan di kandang dengan 1 lusin gol. Ternyata pertandingan tersebut memang sudah diatur oleh kedua tim. Bajul Ijo dan Persipura memang sama-sama menginginkan hasil tersebut. Malam hari sebelum laga digelar, terdapat pertemuan untuk merencanakan berlangsungnya lagan nanti. Pemain Persebaya dan 4 pemain Persipura menyepakati bahwa laga harus dimenangkan oleh Persipura, namun keduanya tak menyepakati berapa skor yang akan menjadi hasil akhir.

Bajul Ijo yang menginginkan hasil berupa kekalahan hanya menurunkan 1 pemain inti. Bahkan, mereka memainkan kiper ketiga dalam laga tersebut. Akhirnya laga berakhir dengan margin yang besar agar Persipura merasa aman karena unggul selisih gol cukup jauh dari PSIS yang juga belum lolos ke babak 6 besar. Ada beberapa alasan yang dipaparkan oleh beberapa pihak. Ada yang menyebut karena dendam terhadap PSIS akibat kalah di final beberapa musim lalu, dan ada yang menyebut karena ingin Persipura lolos sehingga warga Papua atau Irian tidak merasa sedih karena Perseman Manokwari gagal lolos 6 besar sehingga kesatuan NKRI tetap terjaga.

Lalu bagaimana nasib bonek yang terkenal fanatik dalam mendukung Bajul Ijo? Bonek mania ternyata sepakat dengan hasil tersebut. Mereka juga menginginkan PSIS mengalami kegagalan serta beberapa alasan lain. Namun, mereka memberi syarat kepada klub kesayangan mereka. Tim Bajul Ijo harus juara pada musim itu. Alhasil, di laga final yang digelar di Stadion GBK Jakarta Persebaya berhasil menang 3-2 atas Persija Jakarta. Sebuah kisah yang tak mungkin dilupakan pelaku pertandingan maupun para pendukung Persebaya.

Dualisme yang Menerpa Persebaya

source: Kompasiana

Kisah dualisme juga mewarnai sepak bola Surabaya. Hampir mirip dengan kisah Arema Indonesia, Bajul Ijo juga mengalami dualisme akibat adanya dualisme kompetisi di Indonesia. Tim Bajul Ijo melakoni laga play off untuk menghindarkan mereka dari degradasi. Akhirnya Persebaya memilih untuk tidak melakoni laga play off terakhir dan mengikuti kompetisi LPI musim 2010/2011. Wisnu Wardhana yang melihat slot Persebaya di Divisi Utama memanfaatkannya dengan mengakuisisi Persikubar Kutai Barat dan menamakannya dengan Persebaya. Klub ini LPI menambahkan ‘1927’ di namanya.

Persebaya-nya Wisnu kini berubah nama menjadi Bhayangkara FC. Namun klub Wisnu tidak mendapat simpati dari warga Surabaya dan mereka memilih mendukung Persebaya 1927 yang mereka anggap asli. Pada 2016 setelah Persebaya yang berubah menjadi Persebaya United merger dengan PS Polri, saham mereka dibeli Polri dan nama Persebaya hilang. Di tahun yang sama, Persebaya 1927 kembali diakui oleh PSSI dan pada 2017 mereka kembali berlaga di Liga 2. Persebaya berhasil menjadi juara Liga 2 setelah mengalahkan PSMS di final dan kembali ke Liga 1. Persebaya langsung tancap gas di Liga 1 dan berhasil finish di posisi 5 besar. Di kompetisi Piala Presiden 2019, mereka berhasil menjadi runner up. Sebuah perjalanan akhir yang cukup manis sebelum akhirnya Liga 1 sementara dihentikan.

Persebaya kini ditangani oleh Aji Santoso yang dibantu oleh Bejo Sugiantoro dan Mustaqim sebagai asisten pelatih. Persebaya memiliki pemain bintang yang dikapteni Makan Konate, Oktafianus Fernando, David da Silva, Rachmat Irianto (mantan kapten timnas U-19), Hansamu Yama (mantan kapten timnas U-19 dan U-23), Irfan Jaya, Rizky Ridho, Patrich Wanggai, hingga Muhammad Nasir.

Dukungan Setia Bonek Mania

source: Bola.com

Persebaya masih menjadi idola publik Surabaya. Dukungan setulus hati mereka berikan. Beberapa tahun lalu tim Bajul Ijo dengan Boneknya sering terkena sanksi akibat ulah oknum Bonek mania yang anarkis dan membuat nama bonek sekaligus Persebaya tercoreng. Namun kini nama Bonek bertambah arti menjadi Bondho Nekat dan Kreatif yang mulai sejalan dengan sikap dewasa Bonek yang sering membuat koreografi ketika Persebaya bermain di kandang.

Persebaya dan Bonek menjadi cerita tersendiri bagi persepakbolaan Indonesia. Selain menjadi salah satu pendiri PSSI, cerita hebat atas prestasi atau kisah yang tak bisa dibanggakan seperti sepak bola gajah tak akan pernah dilupakan pecinta sepak bola Indonesia.

Aji Santoso selaku pelatih kepala mengaku sudah tidak sabar mengarungi kompetisi Liga 1. Aji juga mengeluhkan jika kompetisi tidak segera bergulir, klub-klub bisa bubar. Tidak mungkin klub bertahan dan hanya menjalani latihan setiap hari. Meskipun begitu, jika kompetisi sudah kembali digelar Persebaya akan menjadi salah satu unggulan juara. Makan Konate, dkk. akan menjadi momok menakutkan bagi lawan-lawan yang dihadapi. Belum lagi bonek yang siap menggetarkan mental pemain lawan dengan teriakan dan nyanyian mereka.

Leave a Comment