PERSELA LAMONGAN : SEPAK BOLA DI KOTA SOTO YANG RELIGIUS

IndoBolaForumSiapa yang tak tau darimana Soto Lamongan berasal. Tidak seperti bika ambon yang berasal dari Medan, soto lamongan memang salah satu masakan yang berasal dari Lamongan. Selain sotonya, Lamongan juga terkenal dengan para penjual lesehan asal Lamongan yang menjamur di kota-kota lain. Yaa, lesehan lamongan memang dikenal sebagai tempat berlabuh para pengemudi lintas kota karena hampir di tiap tepi jalan ada warung lesehan lamongan yang terkenal enak dan murah. Lalu bagaimana dengan dunia sepak bola di Lamongan?

Lamongan merupakan salah satu kota santri di Jawa Timur. Bagaimana tidak, menurut data Kemenang 2019 terdapat 159 pondok pesantren yang berada di Lamongan. Dengan total lebih dari 21 ribu santri yang menimba ilmu di sini, tentu bukan tak mungkin lahir beberapa legenda timnas yang akan muncul dari pondok pesantren. Apa hubungannya ya..?

PSSI memiliki sejumlah kompetisi baik di tingkat profesional maupun di tingkat pembinaan usia muda. Salah satu langkah untuk menjerap talenta muda nan potensial dilakukan dengan mengadakan kompetisi bernama Liga Santri Nusantara. Sesuai namanya, liga yang bergulir setiap tahun ini dikhususkan bagi para santri di Indonesia. Memangnya ada pemain timnas dari santri..?

Santri Yang Mengabdi Untuk Negeri

source: bola.kompas.com

Salah satu punggawa timnas u-19 yang ikut mengharumkan nama Indonesia di tingkat ASEAN dan Asia adalah Muh. Rafli Mursalim. Pemain yang mencuri perhatian Indra Sjafri ini adalah jebolan Liga Santri Nusantara. Jadi, Lamongan memiliki potensi besar untuk melahirkan pemain besar bagi Indonesia. Terlebih lagi, Lamongan memiliki klub kebanggan yang sering memainkan bahkan mengandalkan talenta dari putra daerah. Tak perlu disebutkan satu persatu nama talenta daerah yang menjadi punggawa inti atau bahkan kapten Persela. Nama yang pasti pertama muncul adalah Choirul Huda (alm.) sang legenda yang mengabdikan seluruh masa sepakbolanya di Lamongan. Nama lain yang juga menjadi buah bibir adalah Saddil, Taufik Kasrun, hingga Zaenal Abidin.

Kota yang memiliki sejarah religi para Wali Songo ini memang lekat dengan klub kebanggaan, Persela Lamongan. Klub yang dikelola oleh PT. Persela Jaya ini memiliki julukan Laskar Joko Tingkir. Klub yang “baru” berdiri tahun 1967 ini tidak langsung meraih kejayaan di persepakbolaan Indonesia. Persela hingga tahun 90-an masih berkutat di Divisi Dua dan Divisi Satu Liga Indonesia. Pada tahun 2003 klub ini seperti menemukan titik balik setelah berhasil masuk ke Divisi Utama Liga Indonesia tahun 2004. Perlahan Persela berhasil meraih promosi ke Superliga atau kompetisi tertinggi sepak bola di Indonesia. Momen-momen penting sudah dilewati Persela selain kemenangan di partai play off yang digelar di Stadion Manahan, Solo. Salah satunya adalah keputusan Persela yang tetap bermain di Liga Super Indonesia meskipun adanya dualisme kompetisi pada musim 2011-2012 dulu.

Persela Lamongan memiliki home base yang menjadi tempat bersatunya seluruh elemen klub, mulai dari pelatih, pemain, official, hingga para pendukung Laskar Joko Tingkir yang selalu setia bernyanyi. Tempat itu adalah Stadion Surajaya Lamongan. Stadion yang “hanya” berkapasitas 20.000 tempat duduk ini adalah stadion milik pemerintah kabupaten setempat. Meskipun begitu, stadion ini sudah memiliki rumput dengan standar Internasional. Salah satu ikon dari stadion ini adalah warna biru langit yang juga menjadi ikon dari klub Persela.

Selamat Jalan, Kapten dan Legenda Persela…

source: goal.com

Bagi pendukung Persela masa kini, Stadion Surajaya Lamongan merupakan tempat yang tak terlupakan. Di sinilah tempat mereka terakhir kali menyaksikan pemain, kapten, pahlawan, sekaligus legenda mereka meneteskan keringatnya untuk membela Persela di tahun 2107. Laga melawan Semen Padang menjadi laga perpisahan almarhum Choirul Huda. Benturan keras dengan Ramon Rodrigues (bek Persela) beberapa menit sebelum babak pertama usai menjadi salah satu penyebab kepergian kiper legendaris itu. Total 500 laga lebih sudah Choirul Huda mainkan. Hingga akhirnya nomor punggung 1 resmi mereka pensiunkan untuk menghormati kepergian dan jasa dari sang kiper.

Momen mengharukan sudah sering Persela lewati. Namun, memang Persela tidak memiliki prestasi yang mentereng seperti PSM, Persija ataupun Persipura. Kejuaraan yang pernah mereka menangkan “hanyalah” di tingkat U-21 pada tahun 2011/2012 dan 2012/2013. Sedangkan di tingkat senior, mereka hanya mampu memenangkan Piala Gubernur Jatim dan prestasi terbesar mereka di Liga Indonesia mungkin adalah di musim 2011/2012, dimana mereka mampu finish di posisi 4 besar.

Konsistensi Persela Di Liga Indonesia

Klub ini bukanlah klub yang menjadi favorit juara di tiap kompetisi yang mereka ikuti. Namun, konsistensi klub ini juga patut untuk diacungi jempol. Keseriusan manajemen dalam mengelola klub juga tak patut diapresiasi. Pelatih-pelatih top yang ada di Indonesia sudah mereka coba datangkan. Mulai dari Widodo C. Putro, Miroslav Janu, Gomes de Olivera, Iwan Setiawan, Stefan Hansson, Aji Santoso, hingga kini ditangani mantan pelatih timnas Nil Maizar. Di beberapa musim lalu, mereka juga mendatangkan pemain hebat seperti Addison Alves dan Mario Costas yang pernah menjadi top skor klub selama satu musim. Ataupun penyerang asli Indonesia yang gesit, Samsul Arief yang juga pernah menjadi top skor klub bersama Mario Costas.

LA Mania

source: bola.com

Laskar Joko Tingkir memiliki logo yang cukup unik. Di saat klub-klub luar negeri maupun Indonesia mengadopsi gambar hewan buas seperti Harimau, Hiu, ataupun gambar yang nampak menyeramkan bagi musuh, Persela memiliki ciri khas dengan logo yang memuat gambar Lele. Namun ternyata, Lele Glagah yang terdapat di logo Persela memiliki nilai filosofis yang tinggi. Binatang tersebut menjadi binatang yang dikeramatkan bagi warga Lamongan.

Persela juga memiliki kelompok pendukung yang setia menemani mereka dimanapun Persela berlaga. Mereka menamai diri mereka dengan L.A Mania. Berbeda dengan klub yang belum pernah meraih gelar di kompetisi Liga Indonesia, LA Mania justru pernah dinobatkan sebagai best supporter di ISL musim 2008-2009. Nama LA Mania sendiri juga pernah tercoreng akibat adanya insiden mereka dengan Bonek. Namun, Bonek dinilai sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas insiden yang menyita perhatian masyarakat Indonesia ini.

Kini Persela masih memiliki pemain hebat seperti Bruno Costa, Samsul Arifin, Sugeng Efendi, hingga Muhammad Ridwan serta Dian Agus Prasetya di bawah mistar gawang. Harapan Persela untuk tetap bermain konsisten akan terus ada. Bahkan bukan menjadi ssebuah kemustahilan bagi mereka untuk merengkuh gelar juara di musim mendatang. Patut kita nantikan bersama.

Leave a Comment