PERSIPURA : MUTIARA TERBARUKAN DARI TANAH PAPUA

IndoBolaForum – Tak lengkap rasanya berbicara soal klub sepakbola Indonesia tanpa membicarakan klub yang berasal dari pulau di ujung timur Indonesia, yaitu Pulau Papua. Papua menjadi salah satu sumber daya yang menjanjikan di Indonesia. Bukan hanya nikel dan emas serta keunikan flora dan faunanya saja, melainkan dari sisi sepak bola juga patut untuk dieksplorasi lebih mendalam lagi. Meskipun merupakan tempat yang berada di tepi negeri, Papua bukanlah wilayah yang boleh dikesampingkan. Sumbangsihnya untuk persepakbolaan Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi. Kali ini Persipura akan mewakili nama Papua untuk perbincangan mengenai sumber daya terbarukan dari tanah Papua.

Persipura Jayapura atau yang akrab disebut Mutiara Hitam merupakan salah satu klub tersukses di Indonesia dalam 2 dekade terakhir. Klub kebanggaan warga Jayapura ini sudah malang melintang di persepakbolaan Indonesia. Berdiri sejak 1963, Persipura berhasil menajdi juara Divisi 1 di era perserikatan pada tahun 1979 dan 1993. Di tahun 1980, mereka berhasil menjadi runner up Divisi Utama.

Berpindah Kandang

Persipura memiliki stadion kebanggaan yang terletak di Jayapura. Stadion Mandala Jayapura milik Pemerintah Provinsi Papua menjadi home base dari kesebelasan ini. Meskipun sudah ada Stadion Papua Bangkit atau yang sekarang bernama Stadion Lukas Enembe, Persipura masih memilih bertahan di Stadion Mandala. Kisah keduanya memang tidak mulus-mulus saja. Di tahun 2011, Persipura yang menjadi salah satu wakil Indonesia di Piala AFC harus memainkan laga kandang mereka pada kompetisi tersebut jauh dari kandang asli mereka di Stadion Mandala. Persipura diminta menyelenggarakan laga di tempat lain, Stadion GBK jadi alternatif kala itu.

Talenta yang Tak Pernah Habis

source: Goal.com

Persipura Jayapura atau lebih umum lagi Papua, memang memiliki daya tarik tersendiri dari sisi persepakbolaan. Kiprah para pemainnya sudah malang melintang di penjuru negeri. Bahkan tak jarang pemain dari Papua terutama Persipura Jayapura menjadi pemain inti dan kapten Tim Nasional Indonesia. Sebagai contoh adalah Boaz Solossa. Pemain yang lahir di Sorong Papua ini kini berumum 34 tahun. Pernah bermain untuk Perseru saat masih menjadi pemain binaan, bakat Boaz tercium ketika bermain untuk tim PON Papua. Bakat Boaz semakin menjadi-jadi kala dia mulai bermain untuk Persipura. Di klub ini Boaz makin terasah ketajamannya sebagai penyerang utama. Bahkan di usia 17 tahun dia sudah dibawa oleh Peter White (pelatih timnas kala itu) untuk bermain di Piala Tiger tahun 2004. Puncak kehebatan dia adalah menjadi tulang punggu timnas hingga beberapa tahun yang lalu dan juga menjadi kapten timnas.

Jika ingin mencari talenta hebat Papua lain tak perlu jauh-jauh mencari pemain. Kakak dari Boaz yang bernama Ortizan Solossa juga merupakan pesepakbola professional yang sudah malang-melintang di klub besar Indonesia. Namanya memang tak sebesar sang adik, namun permainan sang kakak tak kalah ciamik. Nama lain dari Papua yang patut diapresiasi adalah pemain seperti Tibo atau Titus Bonai, Chris Yarangga, Christian Warobay, Erol Iba, Gerald Pangkali, Jack Komboy, Eduard Ivakdalam, Jendri Pitoy, Ricardo Salampessy, Patrich Wangga, Osvaldo Haay, dan juga yang terbaru ada talenta muda bernama Todd Ferre.

Sukes Bersama Legenda Persebaya

source: Goal.com

Persipura bermain cukup konsisten dalam 2 dekade terakhir. Tim Mutiara Hitam ini tampak dikelola dengan baik. Jarang ada pemberitaan mengenai perselisihan manajemen, perselisihan antar pemain, atau ketidakjelasan panpel pertandingan. Sempat ditangani oleh nama hebat seperti Rahmad Darmawan dan Ivan Kolev, Persipura justru tampil lebih gahar kala ditangani Jacksen F. Tiago. Seorang pelatih asal Brazil ini memang dahulunya seorang pemain yang pernah bermain di Botafogo dan di Indonesia pernah bermain bersama Persebaya, PSM, ataupun Petrokimia Putra. Di tangan pelatih berbadan tinggi dan gagah ini, Persipura Jayapura berhasil menjadi juara Liga Super Indonesia 3 kali, yaitu di tahun 2009, 2011, dan 2013. Di sela-sela tahun kejayaan itu, Persipura juga tetap menjadi pesaing terkuat. Mereka tercatat menjadi runner up di tahun 2010, 2012, dan 2014.

Meskipun memiliki talenta asli Papua yang melimpah dan setia dengan klub, Persipura tidak menutup diri untuk memainkan pemain asing. Sebagai contoh dua pemain luar negeri yang menjadi idola warga Papua adalah Yoon Jae Hoon dan Beto Goncalves. Yoon Jae Hoon menjadi kiper utama setelah era keemas an Jendri Pitoy usai. Sedangkan Beto menjadi top skor Persipura di tahun 2011-2012 dengan kemasan 25 gol dalam satu musim di ISL. Pemain lain yang tak kalah terkenal dari dua nama tersebut adalah Robertino Pugliara, Otavio Dutra, Christian Carrasco, Arthur Cunha, David Da Rocha, Zah Rahan Krangar, Lancine Kone, dan Silvano Comvalius.

Kiprah Internasional Persipura

Persipura Jayapura pernah merasakan ketatnya persaingan dan hebatnya lawan-lawan yang berlaga di Liga Champions Asia (LCA). Pada tahun 2006 mereka sempat mendapat jatah ke LCA, namun gagal karena terlambat mendaftarkan pemain. Empat tahun setelahnya mereka benar-benar merasakan kerasnya LCA. Mutiara Hitam berhasil berlaga di kancah tertinggi Asia. Namun sayangnya Mutiara Hitam hanya mampu bertahan di fase grup. Di tahun 2012, Persipura hanya bertahan di fase kualifikasi Asia Timur.

Selain Liga Champions Asia, Mutiara Hitam pernah bermain di kasta kedua kompetisi antar klub Asia. Di AFC Cup, Persipura berhasil mencapai perempat final pada tahun 2011. Di tahun 2014, mereka berhasil mencapai babak semifinal dan kalah dari Al Qadsia. Musim selanjutnya, Persipura hanya mencapai perdelapan final. Di tahun 2021 nanti, mereka berkesempatan untuk bermain di AFC Cup lagi setelah adanya sedikit masalah penunjukan wakil Indonesia untuk AFC 2021.

 

Persipura Jayapura memiliki kelompok suporter berjuluk Persipuramania atau The Comen’s yang berdiri tahun 2004. Hingga kini kelompok suporter Persipura tak hanya berasal dari Pulau Papua saja, pendukung mereka terus bertambah seiring suksesnya Persipura mengarungi kompetisi nasional.

Kini Persipura berada di bawah arahan pelatih bertangan dingin Jacksen F. Tiago. Bersama Jacksen Tiago di periode pertama, Persipura berhasil menjuarai Liga Indonesia tiga kali dan hampir selalu finish di dua besar. Kini, Mutiara Hitam kembali dilatih oleh sang legenda. Tim Mutiara Hitam masih dipimpin oleh Boaz Solossa, Ian Louis Kabes, dan Ricardo Salampessy. Selain itu, mereka masih diperkuat pemain-pemain hebat seperti Marinus Wanewar, Yustinus Pae, Yohanes Pahabol, Dede Sulaiman, dan pemain Brazil Thiago Amaral.

Leave a Comment