Persmin Minahasa, Kuda Hitam Divisi Utama Ligina 2006

IndoBolaForumPersmin Minahasa, klub kecil dari Pulau Sulawesi kontestan Divisi Utama. Walau berstatus sebagai klub kecil dan sering dianggap tak sepadan, Persmin tidak ingin dipandang rendah oleh lawan. Pembuktian berhasil ia pertontonkan di setiap pertandingan. Laga demi laga mereka jalani dengan penuh perjuangan. Hasilnya memang bukanlah kemenangan di tiap laga hingga jadi klub nomor satu dalam kejuaraan. Namun setidaknya mereka tetap merendah, walau tak ingin dipandang rendah. Berkat perjuangan tak kenal Lelah dan pantang menyerah.

Persmin Minahasa memang bukan klub besar seperti Persija Jakarta, Persipura Jayapura, atau Sriwijaya. Mereka juga bukan klub yang sudah berdiri sejak Hindia-Belanda seperti PSM Makassar. Klub ini juga tidak memiliki pendukung sebanyak Persebaya Surabaya atau Persib Bandung. Meskipun begitu, klub ini berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah klub di musim 2006.

Klub yang bermarkas di Stadion Maesa Tondano Kabupaten Minahasa ini berdiri pada tahun 1963. PT Minahasa Sportindo menjadi pemiliki klub yang baru saja memenangi Liga 3 tahun lalu. Klub ini memang melambangkan keberadaan Minahasa, terbukti dengan logo klub yang mengusung logo daerah asal berupa seekor burung Manguni atau burung hantu yang disegani masyarakat Minahasa.

 

Meniti Kompetisi Dalam Negeri

Musim 1998/99 Persmin berlaga di Divisi Satu atau setara denga Liga 2. Klub Minahasa ini kandas di babak 8 besar setelah menjadi juru kunci Grup A. Semusim berselang, Manguni Makasiouw kmebali gagal menembus Divisi Utama setelah hanya finish di posisi ketiga Grup Timur Divisi Satu dan gagal masuk 8 besar.

Kisah musim 1998/99 kembali terulang. Persmin berhasil masuk 8 besar namun gagal di fase selanjutnya karena menjadi juru kunci Grup B babak 8 besar. Di musim-musim selanjutnya Persmin masih gagal menembus babak 8 besar. Hingga akhirnya pada musim 2004 mereka meraih tiket promosi ke kasta tertinggi berkat adanya penambahan jumlah kontestan Divisi Utama menjadi 28 klub. Persmin yang hanya menjadi peringkat kelima Wilayah Timur cukup beruntung kala itu.

 

Musim Kedua, Persmin Minahasa Jadi Calon Juara

souce image: Indosport.com

Di musim perdana Persmin Minahasa mengarungi kompetisi kasta tertinggi Indonesia, mereka yang tergabung di Wilayah Timur berhasil menempati posisi ketujuh dari 14 kontestan. Pencapaian ini bukanlah prestasi besar, namun juga bukan kegagalan mengingat pesaing mereka adalah tim besar seperti PSM Makassar dan Persipura Jayapura. Mereka berhasil meraih 34 poin dari laga mereka selama semusim.

Di musim kedua, Persmin Minahasa mengejutkan berbagai pihak. Klub asal Sulawesi Utara ini di luar dugaan mampu menjadi juara Wilayah Timur Divisi Utama Ligina 2006. Persmin yang mengoleksi 50 poin dari 16 kemenangan dan dua hasil seri mampu unggul tiga poin di atas Persik Kediri di posisi kedua.

Perjuangan Manguni Makasiouw berlanjut di babak 8 besar. Klub ini berhasil lolos dengan status runner up Grup B bersama Persekabpas. Uniknya, Persmin hanya meraih tiga hasil seri dan tidak pernah menang dari lawan di fase ini. Sayangnya, di babak semifinal mereka langsung takluk dari Persik Kediri pada laga yang digelar di Stadion Manahan, Solo. Alhasil, Persmin Minahasa menyabet gelar juara ketiga Divisi Utama Ligina 2006 bersama Persekabpas. Di musim ini pula Persmin menjadi terlihat lebih superior dari PSM Makassar. PSM memang mampu menang 3-1 setelah takluk di kandang Persmin 1-0, namun di klasemen mereka masih berjarak  8 poin dari Manguni Makasiouw.

Seolah menjadi antitesis musim lalu, klub kebanggaan masyarakat Minahasa ini gagal di lolos fase penyisihan Wilayah Timur dengan hanya berada di peringkat 8 klasemen dari 18 klub kontestan. Di musim berikutnya, Persmin yang lolos ke ajang Liga Super Indonesia atau LSI musim 2008/09 gagal bermain di kompetisi tersebut karena tidak lolos verifikasi.

 

Sempat Mundur, Kini Perlahan Muncul

Persmin Minahasa yang dinyatakan tidak lolos verifikasi LSI 2008/2009 mengalami kesulitan finansial dan infrastruktur. Akibatnya, klub ini dinyatakan bangkrut dan mengalami kevakuman yang cukup lama.

Tim Manguni Makasiouw ini mulai muncul di kompetisi sepak bola Indonesia pada musim 2017 lalu. Mereka mengulang perjalanan klub ini dari awal. Persmin berlaga di Divisi Dua atau Liga 3 zona Sulut. Di musim kedua, mereka berhasil menjadi juara Liga Zona Sulut. Kemudian, semusim setelahnya mereka menjadi runner up setelah kalah 0-1 dari Persma Manado 1960 di laga puncak.

 

Kesuksesan Pemain Darah Minahasa

Kejayaan Persmin di musim 2006 ternyata tidak banyak melibatkan pemain asing dan masih mengandalkan talenta putra daerah. Salah satu nama yang patut disorot adalah Michael Orah. Michael Orah menyebut bahwa salah satu kunci kesuksesan Manguni Makasiouw pada kala itu adalah kekompakan tim yang membuat permainan mereka jadi solid. Selain itu, tim ini juga memiliki semangat juang tinggi dan kerja keras yang tak kenal lelah.

Setelah sempat merasakan kejayaan bersama klub daerahnya sendiri, Michael Orah berpetualan ke berbagai klub besar di Indonesia. Hasilnya, Michael Orah berhasil mencicipi gelar juara Liga 1 bersama Persija Jakarta. Kini, Michael Orah masih bermain untuk Bali United.

Leave a Comment