PSS SLEMAN : DARI TEPI DAERAH ISTIMEWA, UNTUK SEPAK BOLA YANG SEMBADA

IndoBolaForumDaerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang berada di antara Provinsi Jawa Tengah. Provinsi ini berbatasan dengan Jawa Tengah dan Pantai Selatan saja. Ada bebeberapa kabupaten di DIY seperti Sleman, Gunungkidul, dan Magelang. Sesuai namanya, banyak yang mengagungkan daerah ini karena keistimewaannya. Mulai dari budaya, bahasa, sifat keramah tamahan warga asli, hingga suasana kota yang memang memiliki keistimewaan dibanding daerah lain.

Sebagai kota pelajar, DIY memiliki keistimewaan dengan jumlah pergururan tinggi yang mencapai 136 institusi pendidikan tinggi. Salah satu nama institusi negeri tersebut adalah Universitas Negeri Yogyakarta yang beralamat di Karang Malang, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Dari salah satu institusi pendidikan tinggi ini, muncul berbagai bakat istimewa olahraga yang membanggakan Indonesia di tanah air maupun di kancah Internasional. UNY memiliki Fakultas Ilmu Keolahragaan yang mendukung para atlet yang ingin menyalurkan bakatnya.

Dari sini muncul banyak peraih medali Asian Games maupun Sea Games bagi Indonesia. Mulai dari atlet panahan, voli, futsal, hingga sepakbola banyak yang meniti karir dan melanjutkan jenjang pendidikan di UNY. Dari cabang sepakbola sendiri kita mengenal Yanto Basna dan Septian David Maulana. Jika masih ingat Dinan Javier juga lulus dari UNY dengan predikat cumlaude. Bahkan lebih dari 20 punggawa timnas U-19 tahun 2012 seperti Evan Dimas dan Hansamu Yama disekolahkan di UNY. Namun selain institusi pendidikan tinggi terdapat klub sepak bola profesional di Sleman yang perlu kita sorot, mereka adalah PSS Sleman. Klub yang berada di Kota Sembada di tepi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lahirnya PSS, Lahirnya Sepak Bola di Sleman

PSS atau Perserikatan Sepakraga Sleman merupakan klub profesional yang baru berdiri di tahun 1976. Melalui PT Putra Sleman Sembada, PSS Sleman mulai mewadahi bakat sepakbola di daerah Yogyakarta yang kala itu hanya terdapat Persiba Bantun dan PSIM Yogyakarta saja. Tim yang memiliki julukan tim Elang Jawa atau Elja ini juga memiliki julukan lain Laskar Sembada. PT Putra Sleman Sembada sendiri baru terbentuk pada musim 2011/2012 ketika menjadi sebuah persyaratan yang diminta untuk mengikuti kompetisi profesional.

PSS memulai perjalanan di kompetisi profesional pada 1979 saat mengikuti kompetisi Divisi 2 PSSI bersama Persiba Bantul. Perjalanan tak mudah dilewati karena terus menerus mengalami kegagalan entah ketika bertemu PSIR Rembang, Persijap Jepara, ataupun Persiku Kudus. Kala ketiga tim tersebut mulai rutin bermain di Divisi Utama dan Divisi 1, PSS berhasil menguasai Divisi 2A yang merupakan penyisikan Divisi 2 di daerah Jateng dan DIY. Selama mengarungi Divisi 2, PSS tidak mendapat pendanaan dari Pemkab Sleman atau dari perusahaan besar yang mau bekerja sama. Hingga akhirnya PSS mampu mengarungi Divisi 1 mulai tahun 1996/1997 dan masuk Divisi Utama pada musim 1999/2000.

PSS Sleman memang tidak memiliki legenda yang bisa menjadi pesepakbola nomer 1 Indonesia seperti Boaz Solossa. Namun, PSS berhasil menunjukkan konsistensi dalam menghadirkan pemain binaan yang membuat mereka tak pernah kehabisan talenta dan tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk bersaing dengan klub-klub besar. Sebagai informasi tambahan, di dalam internal Sleman terdapat kompetisi “tarkam”yang sudah mencapai 3 divisi. Kompetisi internal tersebut diikuti oleh klub-klub amatir di Sleman yang sudah berlangsung hampir 40 tahun hingga saat ini.

Juara Liga Dua

source: tribunnews.com

Prestasi terbesar PSS hingga kini adalah menjuarai Divisi Utama yang mereka raih pada tahun 2013. Kegemilangan PSS memang belum segemilang klub besar seperti PSM atau Persipura, namun melihat perjuangan dan perjalanan PSS yang dirintis dari titik nol hingga menjadi klub seperti sekarang perlu diapresiasi. Bahkan beberapa nama pemain seperti Juan Revi, Anton Hermawan, Fachrudin Aryanto, hingga Seto Nurdiantoro berhasil mereka antarkan hingga mengenakan kostum Timnas Indonesia.

PSS memiliki home base utama di Stadion Maguwoharjo Sleman. Selain itu, mereka juga memiliki second home base yang bertempat di Stadion Tridadi Sleman. PSS dan warga Sleman memiliki kebanggaan tersendiri terhadap Stadion Maguwoharjo. Stadion yang terletak di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok ini memang sering digunakan timnas untuk menjalani laga internasional. Stadion ini sempat diajukan untuk menjadi salah satu venue untuk laga Piala Dunia U-20 dimana Indonesia didapuk menjadi tuan rumah, namun ternyata ada persyaratan yang masih gagal disiapkan. Animo pendukung Sleman pun tak hanya hadir ketika PSS bermain. Ketika timnas bermain, pendukung PSIM dan PSS yang selama ini kita ketahui berseberangan bisa menyatukan suara dan dukungan untuk para pemain timnas tercinta.

Supporter yang Sportif dan Kreatif

source: bolasport.com

PSS memang dikenal lewat pendukungnya yang supportif, setia, dan kreatif. Mereka adalah Brigata Curva Sud atau disingkat BCS. Supporter yang mengadopsi aliran ultras ala Italia ini menempati tribun selatan Stadion Maguwoharjo, Sleman sesuai Namanya yang berarti “lengkungan di selatan”. Para pendukung PSS ini tak mengeluhkan rasa lelah dan biaya yang mereka keluarkan untuk mendukung para pemain yang berlaga dengan nyanyian seirama serta koreografi yang membuat para pemirsa dari televisi maupun penonton yang datang ke stadion terpana. Kesetiaan serta ketulusan BCS membuat semangat pemain kembali membara.

Hebatnya, pada tahun 2019 mereka melayangkan aksi protes melalui koreo yang mereka siapkan kala PSS bertemu Persija. Mereka menuntut keseriusan manajemen klub dalam mengelola PSS. Mereka pernah menyuguhkan koreografi 3 dimensi berbentuk gagahnya Sang Elang Jawa yang menjadi ikon klub. Elang Jawa bukanlah satu-satunya koreo yang akan dikenang oleh penikmat sepak bola Indonesia. Bahkan ketika laga timnas digelar di Maguwoharjo, BCS menghadirkan sebuah koreo bergambarkan lambang Pancasila beserta dua bapak Proklamator Indonesia. Koreo tersebut mereka hadirkan kala Indonesia merayakan HUT ke-72.

PSS bukan hanya sekadar sebuah klub biasa dengan talenta pemain ala kadarnya dan prestasi yang tidak menjulang. Tim ini pernah dilatih oleh pelatih-pelatih yang akhirnya namanya melambung setelah menangani PSS Sleman seperti Suwarno, Suharno, Daniel Roekito, Mundari Karya, Iwan Setiawan, dan Seto Nurdiantoro yang juga mantan pemain PSS. Kini, PSS dilatih oleh pelatih yang sudah berpengalaman dan memiliki jam terbang tinggi di persepakbolaan tanah air yaitu Dejan Antonic.

PSS juga pernah dihuni oleh pemain asing berlabel bintang seperti Gaston Castano, Anderson Da Silva, Bruno Casmir, Charles Orock, Noh Alam Shah, ataupun Kristian Adelmund yang pernah menjadi pemain SC Feyenoord Rotterdam. Sedangkan pemain berdarah Indonesia yang pernah bermain untuk PSS adalah T.A. Musafri, Nova Arianto, Galih Sudaryono, Juan Revi, Fachrudin Aryanto, dan beberapa penyerang kelas kakap seperti Cristian Gonzales, Rudi Widodo, Slamet Nurcahyo, Kurniawan Dwi Yulianto, hingga Rochy Putiray.

Kini, PSS masih dihuni oleh pemain hebat seperti Irfan Bachdim, I Gede Sukadana, Zah Rahan Krangar, Aaron Evans, Syamsul Arifin, dan pemain muda Luthfi Kamal. Bersama Dejan Antonic, patut kita tunggu kiprah PSS di Liga 1 2021 nanti.

Leave a Comment