Tarkam: Menjaga Performa atau Mendatangkan Malapetaka

IndoBolaForumIndonesia sudah bak Brazilnya Asia Tenggara. Memiliki ratusan juta penduduk menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi persepakbolaan Indonesia. Dari ratusan juta jiwa ini muncullah banyak talenta. Mulai dari pemain era Galatama hingga pemain aktif yang masih berusia muda. Timnas Indonesia pun tak pernah kehabisan sumber daya. Para pemain profesional pun beribu jumlahnya. Tak ayal banyak berdatangan pemain dari luar benua atau hanya negeri tetangga.

Sebenarnya pemain sepak bola profesional hampir selalu mendapat libur sebulan hingga dua bulan ketika ada jeda kompetisi. Namun jeda kompetisi kali ini cukuplah lama. Sebagai pemain profesional pun pasti akan menurung performanya jika tidak berlatih atau bertanding dalam kurun waktu lama. Selain itu, menurut Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) tak sedikit permain bergaji 5-6 juta per bulan di masa normal. Pada masa pandemic gaji mereka dapat terpotong hingga 75%. Artinya ada pemain yang hanya medapat gaji di bawah UMR.

Namun kala pandemi mewabah bagaimana nasib pemain yang tidak memiliki jadwal kompetisi liga?

 

Tarkam Untuk Bertahan Hidup

source: CNN Indonesia

Di saat pandemi, kompetisi terpaksa meliburkan diri. Para pemain mulai meresahkan persoalan gaji. Benar saja mulai pertengahan tahun lalu banyak klub mulai bernegosiasi. Klub bukan bernegosiasi untuk mencari pilar baru, melainkan memastikan pilar lama mau menyepakati nominal gaji baru. Klub juga tak bisa disalahkan sepenuhnya atas penurunan gaji pemain ataupun pemecatan staff pekerja klub dan stadion. Selama liburnya kompetisi, klub berkurang pendapatannya. Pendapatan dari tiket pertandingan hilang dan “investasi” dari pihak ketiga yang bekerja sama juga tidak semulus sebelumnya. Hal ini berefek domino untuk klub secara keseluruhan.

Khusus para pemain profesional, mereka yang hidup bergantung pada gaji dari klub terpaksa mencari sumber nafkah lain. Tak banyak pemain yang memiliki kemampuan lain selain bermain sepak bola. Alhasil para pemain ini mencoba mencari pendapatan tak jauh dari dunia sepak bola. Bagi para pemain tertentu yang sudah memiliki ketenaran masih bisa memanfaatkan media sosial sebagai sumber nafkah lain. Beberapa pemain juga tak jarang mendatangi acara TV atau menjadi aktor sinetron maupun film. Namun, tak sedikit juga pemain yang akhirnya memilih bermain sepak bola di tingkat amatir.

Tarkam memiliki daya tarik tersendiri bagi para pemain sepak bola Indonesia. Pasalnya di laga tarkam tak semua pemain memperoleh pendapatan. Hanya pemain yang sudah memiliki nama saja yang akan memperoleh bagian tertentu di tiap laga. Pemain profesional yang sudah dikenal namanya maupun dikenal karena nama besar klubnya tentu menjadi salah satu pemain yang mendapat bagian. Dengan demikian, kompetisi antar kampung atau tarkam menjadi alternatif termudah bagi pemain untuk mencari sumber pendapatan lain. Para pemain ini juga beralasan ingin menjaga kebugaran dan kemampuan mereka karena liburnya kompetisi dan liburnya latihan klub.

 

Bisa Juara, Bisa Cedera

Perbedaan level permainan membuat tim tarkam yang diperkuat pemain profesional memiliki perubahan positif. Setidaknya mereka akan menguatkan mental pemain lain dan juga kemampuan individunya akan dibutuhkan tim. Namun semua keputusan pasti memiliki risiko. Meskipun Liga Indonesia merupakan salah satu kompetisi ketat yang menyajikan permainan cukup keras, pemain tetap merasakan perbedaan yang cukup jauh. Wasit amatir juga cukup mempengaruhi keputusan yang diambil. Pemain yang kurang paham regulasi sepak bola profesional juga terkesan seenaknya sendiri.

Pemain tarkam mungkin belum pernah merasakan diberi sanksi 5 pertandingan akibat pelanggaran berat yang disengaja. Atau dikenakan denda jutaan rupiah karena berkelahi saat berlaga. Alhasil permainan keras sudah menjadi hal biasa di kompetisi tarkam. Pemain profesional yang belum terbiasa di kompetisi ini pasti akan merasakan kerasnya liga tarkam. Tak sedikit pemain yang mengalami cedera akibat mengikuti kompetisi tarkam ini.

Klub profesional pun mencoba mengatasi dan melakukan pencegahan lebih dini. Ada klub yang mengancam memberi sanksi jika pemain nekat ikut liga tarkam demi penambal gaji.

 

Pemain Pro yang Terlibat Tarkam di Tahun Ini

Pemain yang sedang hangat diberitakan karena mengikuti laga tarkam adalah Bayu Gatra dan Saddil Ramdhani. Saddil beralasan laga yang ia ikuti adalah laga persahabatan atau fun football saja. Sedangkan Bayu Gatra mengatakan ia tak mendapat sepeser pun dari laga yang media beritakan sebagai laga tarkam. Menurutnya, itu hanyalah laga persahabatan dan banyak diiikuti pemain Liga 2 dan Liga 3 juga.

Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts menanggapi hal ini dengan serius. Para pemain hanya diperbolehkan mengikuti laga persahabatan atau special events seperti laga amal. Berbeda dengan Alberts, manajer Persita Tangerang I Nyoman Suryanthara mengizinkan para pemainnya bermain di kompetisi antar kampung. Menurutnya hal ini cukup dimaklumi karena kondisi pandemi. PSIS yang memiliki sikap tegas pun sedikit memberi toleransi akibat situasi ini.

 

Pro-Kontra Liga Tarkam

Terlepas dari polemik pemenuhan kebutuhan hidup yang layak atau dilanggarnya sebuah kontrak profesional, tarkam memiliki kelebihan dan kekurangannya. Menurut opini penulis, tarkam dapat menjadi sebuah ajang penggapai cita-cita bagi para pemain yang berasal dari keluarga kurang berada sehingga tak bisa bergabung dengan akademi klub profesional. Tarkam juga menjadi sebuah batu loncatan. Jika di Inggris, terdapat kompetisi Sunday League yang memang menjadi kompetisi kasta bawah. Di Indonesia sendiri ada PSS yang memiliki kompetisi Liga Sleman Sembada yang mirip dengan Sunday League Inggris. Tarkam juga menjadi solusi atas keterbatasan rakyat ekonomi rendah yang ingin menyaksikan langsung kompetisi ketat dan keras di lapangan hijau.

Di balik segala kelebihannya, liga tarkam ini tetap memiliki kekurangan. Tergiurnya para pemain profesional yang mencari tambahan penghasilan di kompetisi ini menjadi sebuah polemik besar. Klub akan dirugikan karena perjanjian mereka dengan sang pemain dikhianati. Klub juga akan lebih merugi jika sang pemain mengalami cedera.

Leave a Comment